Kamis, 24 Mei 2012

makalah koloid


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
                 Dalam kehidupan sehari-hari kita sering bersinggungan dengan sistem koloid sehingga sangat penting untuk dikaji. Sebagai contoh, hampir semua bahan pangan mengandung partikel dengan ukuran koloid, seperti protein, karbohidrat, dan lemak. Emulsi seperti susu juga termasuk koloid. Dalam bidang farmasi, kebanyakan produknya juga berupa koloid, misalnya krim, dan salep yang termasuk emulsi. Dalam industri cat, semen, dan industri karet untuk membuat ban semuanya melibatkan sistem koloid. Semua bentuk seperti spray untuk serangga, cat, hair spray, dan sebagainya adalah juga koloid. Dalam bidang pertanian, tanah juga dapat digolongkan sebagai koloid. Jadi sistem koloid sangat berguna bagi kehidupan manusia.
Sistem koloid berhubungan dengan proses-proses dialam yang mencakup berbagai bidang. Hal itu dapat kita perhatikan didalam tubuh makhluk hidup, yaitu makanan yang kita makan (dalam ukuran besar) sebelum digunakan oleh tubuh terlebih dahulu diproses sehingga berbentuk koloid. Juga protoplasma dalam makhluk hidup merupakan suatu koloid sehingga proses-proses dalam sel melibatkan sistem koloid.
Dalam udara juga terdapat sistem koloid, misalnya polutan padat yang terdispersi dalam udara, yaitu asap dan debu. Juga air yang terdispersi dalam udara yang disebut kabut merupakan sistem koloid. Mineral-mineral yang terdispersi dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuh-tumbuhan juga merupakan sistem koloid. Proses majunya garis diakibatkan pembentukan sistem koloid yang disebut proses pengendapan koloid dan terbentuknya delta pada muara sungai juga proses pembentukan koloid. Penggunaan sabun untuk mandi dan mencuci berfungsi untuk membentuk koloid antara air dan kotoran yang melekat (minyak). Campuran logam selenium dengan kaca lampu belakang mobil yang menghasilkan cahaya warna merah merupakan sistem koloid. Banyak sekali campuran dialam ini yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yang merupakan system koloid. Untuk mengetahui apakah AgCl termasuk koloid maka disusunlah makalah yang berjudul sol AgCl. 
  
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan suatu masalah yaitu: mengapa AgCl disebut sebagai koloid?

C.      Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk mengetahui alasan mengapa AgCl disebut sebagai koloid.
BAB II
KAJIAN TEORI

A.    Pengertian sistem koloid
Sistem koloid dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, cat adalah sistem koloid yang merupakan campuran heterogen zat padat yang tersebar merata dalam zat cair. Demikian pula udara dan debu di dalamnya merupakan suatu sistem koloid. Koloid adalah suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau lebih di mana partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase terdispersi/yang dipecah) tersebar secara merata di dalam zat lain (medium pendispersi/ pemecah). Ukuran partikel koloid berkisar  antara 10-7-10-5 cm ( 1-100 nm ). Partikel koloid dapat berupa mekromolekul atau gumpalan molekul-molekul kecil berukuran koloid.
B.     Jenis-jenis koloid
            Sistem koloid dapat dikelompokkan berdasarkan fase terdispersinyamenjadi 3 yaiu:
1.         Sol
       Sol adalah suatu jenis koloid dengan fase terdispersi padat dan medium pendispersi berupa zar padat, zat cair, atau gas. Ada 3 jenis sol, yaitu sol padat, sol cair (sol), dan sol gas ( aerosol padat).
a.    Sol padat adalah sol dalam medium pendispersi padat.
Contoh : paduan logam, gelas berwarna, intan hitam
b.    Sol cair (sol) adalah sol dalam medium pendispersi cair
Contoh : cat, tinta, tanah liat, tepung dalam air
c.    Sol gas ( aerosol padat) adalah sol dalam medium pendispersi gas.
Contoh : debu di udara, asap pembakaran
2.         Emulsi
Emulsi adalah suatu jenis koloid dengan fase terdispersi berupa zat cair dan medium pendispersi berupa zat padat, zat cair, atau gas.
a.    Emulsi padat atau gel
Gel merupakan emulsi dalam medium pendispersi zat padat.
Contoh : jelly, keju, mentega, nasi
b.    Emulsi cair
Emulsi dalam medium pendispersi cair. Emulsi cair melibatkan campuran dua zat cair yang tidak dapat saling melarutkan, yaitu zat cair polar dan zat cair non polar.
Contoh : susu, mayones, krim
c.    Emulsi gas (aerosol cair)
Emulsi dalam medium pendispersi gas.
Contoh : awan, kabut, hairspray
3.         Buih
Buih adalah suatu jenis koloid dengan fase terdispersi berupa gas dan medium pendispersi zat cair atau zat padat.
a.    Buih padat
Buih padat adalah sistem koloid dengan fase terdispersi gas dan medium pendispersi zat padat.
Contoh : batu apung, roti, karet busa
b.    Buih cair (buih)
Buih cair adalah sistem koloid dengan fase terdispersi gas dan medium pendispersi zat cair.
Contoh : busa sabun, putih telur yang dikocok, alat pemadam kebakaran

C.    Koloid sol
1.    Sifat koloid sol
a.    Efek Tyndall (menghamburkan cahaya)
b.    Gerak Brown (gerak zig-zag)
c.    Daya adsorpsi besar (penyerapan partikel netral bermuatan pada permukaan)
d.   Bermuatan listrik (akibat adsorpsi partikel bermuatan pada permukaan)
e.    Koagulasi (penggumpalan akibat kehilangan muatan)

2.    Pembuatan koloid sol
a.    Metode kondensasi
Penggunaan partikel-partikel larutan melalui reaksi kimia ( dekomposisi rangkap, hidrolisis, dan redoks) atau penggantian pelarut.
b.    Metode disperse
Pemecahan partikel-partikel besar dengan cara mekanik, peptisasi, busur bredig)
3.    Pemurnian koloid sol
a.    Dialysis (pemisahan dengan selaput permeabel)
b.    Elektrodialisis (dialisis di bawah pengaruh medan listrik)
c.    Penyaring ultra

D.    Penggunaan Koloid Dalam Kehidupan Sehari – Hari

Sistem koloid banyak digunakan dalam kehidupan manusia, terutama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan sifat karakteristik koloid yang penting, yaitu dapat digunakan untuk mencampur zat-zat yang tidak dapat saling melarutkan secara homogen dan bersifat stabil untuk produksi dalam skalabesar.
Berikut ini adalah tabel aplikasi koloid:
Jenis industry
Contoh aplikasi
Industri makanan
Keju, mentega, susu, saus salad
Industri kosmetika dan perawatan tubuh
Krim, pasta gigi, sabun
Industri cat
Cat
Industri kebutuhan rumah tangga
Sabun, deterjen
Industri pertanian
Peptisida dan insektisida
Industri farmasi
Minyak ikan, pensilin untuk suntikan

E.     Kosmetik

Bahan – bahan kosmetika sangat banyak jenisnya, akan tetapi pada prinsipnya hampir 90% dari bahan itu dibuat dalam keadaan koloid. Hal itu disebabkan sifat koloid yang mudah menyerap pewangi dan pewarna, lembut, mudah dibersihkan, tidak merusak kulit dan rambutm dan sekaligus mengandung dua macam bahan yang tidak dapat saling larut. Macam – macam bentuk bahan kosmetik sebagai berikut :
1.    Bahan kosmetika yang berbentuk aerosol, misalnya parfum dan deodorant spray, hair spray, dan penghilang bau mulut yang disemprotkan.
2.    Bahan kosmetika yang berbentuk sol, misalnya susu pembersih muka dan kulit, cairan untuk masker, dan cat kuku.
3.    Bahan kosmetika yang berbentuk emulsi, misalnya susu pembersih muka dan kulit. 
4.    Bahan kosmetika yang berbentuk gel, misalnya deodorant stick dan minyak rambut (jelly). 
5.    Bahan kosmetika yang berbentuk buih, misalnya sabun cukur dan sabun kecantikan.
6.    Bahan kosmetika yang berbentuk sol padat misalnya pemerah bibir, pensil alis dan maskara



BAB III
PEMBAHASAN
A.      PENGERTIAN KOLOID
Sistem koloid banyak digunakan pada kehidupan sehari-hari, terutama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan sifat karakteristik koloid yang penting, yaitu dapat digunakan untuk mencampur zat-zat yang tidak dapat saling melarutkan secara homogen dan bersifat stabil untuk produksi dalam skala besar. Salah satu sistem koloid adalah emulsi. Emulsi terbentuk karena pengaruh suatu pengelmusi (emuglator). Salah satu contoh aplikasi dalam kehidupan sehari-hari dari sistem koloid adalah lulur, berikut penjelasannya
Koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaannya antara larutan dan suspensi. Larutan memiliki sifat homogen dan stabil. Suspensi memiliki sifat heterogen dan labil. Sedangkan koloid memiliki sifat heterogen dan stabil. Koloid merupakan sistem heterogen, dimana suatu zat "didispersikan" ke dalam suatu media yang homogen. Ukuran zat yang didispersikan berkisar dari satu nanometer (nm) hingga satu mikrometer (┬Ám).
Perhatikan perbedaan tiga contoh campuran di bawah ini :
1. Campuran antara air dengan sirup.
2. Campyuran antara air dengan susu.
3. Campuran antara air dengan pasir.
Jika kita campurkan air dengan sirup maka sirup akan terdispersi (bercampur) dengan air secara homogen (bening) Jika didiamkan, campuran itu tidak memisah dan juga tidak dapat dipisahkan dengan penyaringan biasa maupun penyaringan yang lembut (penyaringan mikro). Secara makroskopis maupun mikroskopis campuran ini tampak homogen, tidak dapat dibedakan mana yang air dan mana yang sirup. Campuran seperti inilah yang disebut larutan.
Jika kita campurkan susu (misalnya, susu instan) dengan air, ternyata susu "larut" tetapi "larutan" itu tidak bening melainkan keruh. Jika didiamkan, campuran itu tidak memisah dan juga tidak dapat dipisahkan dengan penyaringan (hasil penyaringan tetap keruh). Secara makroskopis campuran ini tampak homogen. Akan tetapi, jika diamati dengan mikroskop ultra ternyata masih dapat dibedakan partikel-partikel lemak susu yang tersebar di dalam air. Campuran seperti inilah yang disebut koloid.
Jika kita campurkan air dengan pasir maka pasir akan terdispersi (bercampur) dengan air secara heterogen dan langsung  memisah antara air dengan pasir, yang keadaannya pasir akan mengendap di dasar air dan dapat dipisahkan dengan penyaringan biasa, bahkan dapat dipisahkan dengan cara dituang perlahan-lahan. Secara makroskopis campuran ini sudah tampak hetrogen, dapat dibedakan mana yang air dan mana yang pasir. Campuran seperti inilah yang disebut suspensi.
Jadi, koloid tergolong campuran heterogen (dua fase) dan stabil. Zat yang didipersikan disebut fase terdispersi, sedangkan medium yang digunakan untuk mendispersikan zat disebut medium dispersi. Fase terdispersi bersifat diskontinu (terputus-putus), sedangkan medium dispersi bersifat kontinu.

B.       JENIS-JENIS KOLOID
Sistem koloid banyak digunakan pada kehidupan sehari. Hal ini disebabkan sifat karakteristik koloid yang penting, yaitu dapat digunakan untuk mencampur zat-zat yang tidak dapat saling melarutkan secara homogen dan bersifat stabil untuk produksi dalam skala besar.
Ada banyak penggunaan sistem koloid baik di dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai industri seperti industri kosmetik, makanan, farmasi dan sebagainya. Beberapa macam koloid tersebut antara lain;

1. Aerosol
Aerosol adalah sistem koloid di mana partikel padat atau cair terdispersi dalam gas. Aerosol yang dapat kita saksikan di alam adalah kabut, awan, dan debu di udara. Dalam industri modern, banyak sediaan insektisida dan kosmetika yang diproduksi dalam bentuk aerosol, dan sering kita sebut sebagai obat semprot, Contohnya antara lain adalah hair spray, deodorant dan obat nyamuk.
2. Sol
Sol adalah sistem koloid di mana partikel padat terdispersi dalam cairan. Berdasarkan sifat adsorpsi dari partikel padat terhadap cairan pendispersi, kita mengenal dua macam sol yaitu:
a. Sol liofil, dimana partikel-partikel padat akan mengadsorpsi molekul cairan, sehingga terbentuk suatu selubung di sekeliling partikel padat itu. Liofil artinya “cinta cairan” (Bahasa Yunani; lio=cairan; philia=cinta). Sol liofil yang setengah padat disebut gel. Contoh gel antara lain selai dan gelatin.
b. Sol liofob, dimana partikel-partikel padat tidak mengadsorpsi molekul cairan. Liofib artinya “takut cairan” (phobia=takut).
Jika medium pendispersinya berupa air, kedua macam koloid di atas masing-masing disebut koloid hidrofil (cinta air) dan koloid liofob (takut air). Contoh koloid hidrofil adalah kanji, protein, lem, sabun, dan gelatin. Adapun contoh koloid hidrofob adalah sol-sol sulfide dan sol-sol logam.
3. Emulsi
Emulsi adalah suatu system koloid di mana zat terdispersi dan medium pendispersi sama-sama merupakan cairan. Agar terjadi suatu campuran koloid, harus ditambahkan zat pengemulsi (emulgator). Susu merupakan emulsi lemak dalam air, dengan kasein sebagai emulgatornya. Obat-obatan yang tidak larut dalam air banyak yang dibuat dan dipanaskan dalam bentuk emulsi. Contohnya emulsi minyak ikan. Emulsi yang dalam bentuk semipadat disebut krim.

C.      PEMBUATAN KOLOID
Jika kita atau sebuah industri akan memproduksi suatu produk berbentuk koloid, bahan bakunya adalah larutan (partikel berukuran kecil) atau suspensi (partikel berukuran besar). Didasarkan pada bahan bakunya, pembuatan koloid dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu sebagai berikut.
1. Kondensasi
Kondensasi adalah cara pembuatan koloid dari partikel kecil (larutan) menjadi partikel koloid. Proses kondensasi ini didasarkan atas reaksi kimia; yaitu melalui reaksi redoks, reaksi hidrolisis, dekomposisi rangkap, dan pergantian pelarut.
a.    Reaksi Redoks
Contoh:
1)   Pembuatan sol belerang dari reaksi redoks antara gas H 2 S dengan larutan SO 2 .
Persamaan reaksinya: 2 H 2 S (g) + SO 2 (aq) →2 H 2 O (l) + 3 S (s)
2)   Pembuatan sol emas dari larutan AuCl 3 dengan larutan encer formalin (HCHO).
Persamaan reaksinya:
2 AuCl 3(aq) + 3 HCHO (aq) + 3H 2 O (l) 2 Au (s) + 6HCl (aq) + 3 HCOOH (aq)

b.    Reaksi Hidrolisis
Contoh, pembuatan sol Fe(OH) 3 dengan penguraian garam FeCl 3 Persamaan reaksinya adalah: mengunakan air mendidih.
FeCl 3 (aq) + 3 H 2 O (l) Fe(OH) 3 (s) + 3 HCl ( aq)
c.    Reaksi Dekomposisi Rangkap
Contoh:
1)   Pembuatan sol As 2 S 3, dibuat dengan mengalirkan gas H 2 S dan asam arsenit (H 3 AsO 3 ) yang encer.
Persamaan reaksinya: 2 H 3 AsO 3 (aq) + 3 H 2 S (g) As 2 S 3 (s) + 6H 2 O (l)
2)   Pembuatan sol AgCl dari larutan AgNO 3 dengan larutan NaCl encer.
Persamaan reaksinya: AgNO 3 (aq) + NaCl (aq) AgCl (s) + NaNO 3 (aq)
Sol AgCl juga dapat dibuat dengan mencampurkan larutan AgNO3 encer dan  larutan HCl encer.
AgNO3(aq) +  HCl(aq) → AgCl(koloid) + HNI3(aq)

d.   Reaksi Pergantian Pelarut
Contoh, pembuatan sol belerang dari larutan belerang dalam alkohol ditambah dengan air. Persamaan reaksinya:
S (aq) + alkohol + air S (s) Larutan S


2. Dispersi
Dispersi adalah pembuatan partikel koloid dari partikel kasar (suspensi). Pembuatan koloid dengan dispersi meliputi: cara mekanik, peptisasi, busur Bredig, dan ultrasonik.
a.    Proses Mekanik
Proses mekanik adalah proses pembuatan koloid melalui penggerusan atau penggilingan (untuk zat padat) serta dengan pengadukan atau pengocokan (untuk zat cair). Setelah diperoleh partikel yang ukurannya sesuai dengan ukuran koloid, kemudian didispersikan ke dalam medium (pendispersinya). Contoh, pembuatan sol belerang.
b.    Peptisasi
Peptisasi adalah cara pembuatan koloid dengan menggunakan zat kimia (zat elektrolit) untuk memecah partikel besar (kasar) menjadi partikel koloid. Contoh, proses pencernaan makanan dengan enzim dan pembuatan sol belerang dari endapan nikel sulfida, dengan mengalirkan gas asam sulfida.
3) Busur Bredig
Busur Bredig ialah alat pemecah zat padatan (logam) menjadi partikel koloid dengan menggunakan arus listrik tegangan tinggi. Caranya adalah dengan membuat logam, yang hendak dibuat solnya, menjadi dua kawat yang berfungsi sebagai elektrode yang dicelupkan ke dalam air; kemudian diberi loncatan listrik di antara kedua ujung kawat. Logam sebagian akan meluruh ke dalam air sehingga terbentuk sol logam. Contoh, pembuatan sol logam.
4) Suara Ultrasonik
Cara ini hampir sama dengan cara busur Bredig, yaitu sama-sama untuk pembuatan sol logam. Ka1au busur Bredig menggunakan arus listrik tegangan tinggi, maka cara ultrasonik menggunakan energi bunyi dengan frekuensi sangat tinggi, yaitu di atas 20.000 Hz.
D.      AgCl TERMASUK KOLOID
AgCl termasuk dalam koloid, yang dibuat dengan cara kondensasi yaitu cara pembuatan koloid dari partikel kecil (larutan) menjadi partikel koloid, melalui reaksi dekomposisi rangkap. AgCl dapat dibuat dari larutan AgNO3 encer direaksikan dengan larutan NaCl atau HCl encer dengan persamaan reaksi sebagai berikut:
      AgNO 3 (aq) + NaCl (aq) AgCl (s) + NaNO 3 (aq)
                        AgNO3(aq) +  HCl(aq) → AgCl (s) + HNI3(aq)
AgCl ini termasuk dalam koloid jenis sol karena partikel padat terdispersi dalam cairan. Berdasarkan sifat adsorbs dari partikel AgCl terhadap cairan pendispersinya maka AgCl ini termasuk sol liofob, artinya partikel-partikel AgCl tidak mengadsorbsi molekul cairan pendispersinya.


BAB IV
                                                                  PENUTUP              
A.      Simpulan
AgCl termasuk koloid jenis sol karena merupakan padatan yang terdispersi dalam cairan. Berdasarkan sifat adsorbsinya AgCl termasuk sol liofob, yang berarti partikel AgCl tidak  mengadsorbsi molekul cairan pendispersinya. Sol AgCl dapat dibuat dari larutan AgNO3 encer direaksikan dengan larutan NaCl atau HCl encer melalui cara kondensasi, dengan reaksi dekomposisi rangkap. Persamaan reaksinya sebagai berikut:
AgNO 3 (aq) + NaCl (aq) AgCl (s) + NaNO 3 (aq)
AgNO3(aq) +  HCl(aq) → AgCl (s) + HNI3(aq)


DAFTAR PUSTAKA
Parning, Horale. 2005. Kimia 2B Kelas 2 SMA Semester Kedua. Jakarta: Yudhistira.




1 komentar: